Mutiara Hati

MENARI BERSAMA OMBAK

Posted on: May 8, 2011

Pantai adalah tempat favoritku. Aku tak pernah bosan walaupun harus duduk seharian di atas batu-batu yang ada di pinggir pantai. Disaat apapun dan dalam kondisi apapun laut dan pantai akan selalu menjadi tempat yang takkan bisa dipisahkan dari diriku, sehingga Satria teman masa kecilku menyebutku ”Putri pantai”. Dia adalah sahabat terbaikku, dia tak pernah bosan untuk menemaniku pergi kepantai walaupun hanya sekedar berlarian diantara ombak-ombak yang datang. Dan dia juga tak pernah mengejek atau menertawakanku karena hobbiku yang aneh, karena hobbiku yang satu ini jauh berbeda dengan hobbi kebanyakan cewek-cewek yang suka mengoleksi boneka, assesories, parfum atau perangko. Tapi hobbiku malah mengoleksi batu. Batu yang unik dan lucu yang banyak terdapat di pinggiran pantai dan dalam laut. Biasanya pada pagi hari menjelang siang air laut di dekat rumahku yang jaraknya Cuma 500 meter airnya bisa surut sampai-sampai kita bisa bermain ke arah tengah laut karena airnya hanya sampai mata kaki. Kita bisa melihat terumbu karang secara langsung dan melihat aneka jenis ikan karang yang sedang berlarian. Dan pada saat-saat seperti inilah aku dan Satria berburu mencari aneka jenis batu-batu yang unik dan lucu. Ada batu yang berwarna biru dan bening seperti permen kiss, ada batu yang bening seperti pecahan kaca gelas, ada batu yang berwarna coklat lonjong dan licin seperti telur, ada batu yang hitam dengan dikelilingi bercak-bercak putih disekelilingnya, bahkan ada batu yang berbentuk aneh dan  tak menetu tapi sangat unik dan lucu. Kadang aku tidak hanya mengumpulkan batu-batu tapi juga karang-karang yang berserakan di pinggir pantai yang terbawa ombak.

***

Hari ini sepulang kuliah aku pergi kepantai, tapi aku tak ditemani Satria lagi. Terakhir aku pergi ke pantai bersama Satria adalah sehari sebelum Satria dan keluarganya pindah ke Brunei karena papanya Satria dipindah tugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja ke cabang perusahaan yang ada di Brunei. Saat itu aku berusia 8 tahun. Entah kenapa seminggu, sebulan, dua bulan bahkan setahun setelah kepindahannya Satria tak pernah menghubungiku lagi. Dia tak pernah menelpon atau sekedar mengirimiku kartu pos. Saat itu aku sangat sedih karena aku kehilangan satu-satunya sahabat terbaikku. Aku berfikir mungkin di luar negri sana Satria telah menemukan sahabat baru yang jauh lebih baik dariku. Akhirnya lambat laun aku mulai melupakan kesedihanku karena ditinggalkan sahabat baikku itu, aku berhenti berharap mendapat kiriman kartu pos dari Satria, karena aku sekeluarga juga harus pindah ke kota Padang, kota kelahiran mama. Lagi pula papa dipindah tugaskan ke kota rendang ini. Walaupun sebenarnya berat bagiku untuk pindah dari kota kelahiranku itu, karena di kota itu begitu banyak kenangan masa kecilku bersama mama, papa, dan teman-temanku yang tak ingin ku lupakan. Termasuk kenangan ku bersama Satria di pantai, kenangan bersepeda di sore hari dan kadang pulang menjelang azan magrib. Seakan-akan semua kenangan indah itu muncul lagi di ingatanku sebelum keberangkatanku ke Padang. Namun tiba-tiba lamunanku tentang semua kenangan itu buyar ketika mama mengetuk pintu kamar dan memanggilku.

Putri, sudah siap belum? Cepat dong sayang nanti kita ketinggalan pesawat lho…

Iya ma, sebentar lagi Putri keluar.

Baiklah kalau gitu mama sama papa tunggu kamu di mobil.

Akhirnya hari itupun tiba, hari dimana aku dan sekeluarga pindah ke Padang. Mama dan papa sangat mengerti kalau aku sangat menyukai laut, karena itu papa memilih membeli rumah baru yang jaraknya dekat dengan laut. Aku Cuma butuh waktu 10 menit dengan bersepeda untuk mencapai laut. Aku sangat senang karena laut di sini tak kalah indahnya dengan laut di kota kelahiranku. Disini juga banyak batu yang unik serta karang-karang yang lucu.

Aku sangat senang sekali apabila langit biru karena jika langit biru maka air laut juga akan biru dan keindahannya bertambah dengan kilauan sinar mentari sehingga membuat permukaan air laut seperti mutiara yang berkilauan.

***

Tak terasa sudah 12 tahun aku berada di Padang, itu berarti sudah 12 tahun pula aku tak bertemu dan mendengar kabar dari Satria. Apakah dia masih ingat aku atau sudah lupa sama sekali. Walaupun disini aku punya banyak teman tapi tak ada yang seperti Satria. Tak satupun dari temanku yang mau dan rela menemaniku ke pantai, apalagi menemaniku mencari batu-batu yang lucu. Mereka menganggap hobbiku itu sangat aneh untuk ukuran seorang cewek. Tapi bagiku itu semua ngak masalah karena mereka tetap mau menjadi teman baikku.

Selama 12 tahun belakangan ini aku lebih sering kepantai sendirian, karena tak banyak orang yang mau menghabiskan hari-harinya di pinggir pantai yang panas apalagi cewek. Mereka pada takut hitam, tapi hari ini beda. Aku ditemani oleh dua orang sahabat baikku Bella dan Tika. Katanya sih mereka mau mencoba bermain dan menari bersama ombak sekalian menemaniku mencari batu dan karang.

Laras, ternyata menyenangkan ya bermain bersama ombak. Gimana menurut lho Tik…

Iya, tambah Bella. Kenapa ngak dari dulu ya kita ikut Laras ke pantai.

Kalian kan udah dari dulu aku ajak ke pantai, tapi apa jawaban kalian ngak mau kan, karena takut item.

Ya iyalah Ras… Kita inikan cewek, jadi harus jaga penampilan dong, terutama kulit kita. Iya kan Bell…

Yap… betul bangat tu Tik..

Oh ya ngomong-ngomong kok kulit kamu ngak item ya Ras, padahal kan kamu sering ke pantai. Apa sih rahasianya..?

Rahasia apa… ngak ada rahasia sama sekali. Aku sendiri juga heran, kok kulitku ngak hitam ya padahal kalian berdua tahukan dari kecil aku suka bangat ke pantai.

Atau jangan-jangan karna kamu pakai jilbab kali Ras, jadi sinar matahari ngak langsung mengenai kulit kamu, ngak seperti kita…

Kalau gitu kenapa kalian ngak pakai jilbab aja…

Belum siap lahir bathin Ras…

Sebenarnya aku ngak hitam bukan karena aku pakai jilbab kali, tapi emang dasarnya aku ngak bisa hitam. Kalian berdua tahukan kalau aku udah suka ke pantai sejak kecil dan aku baru pakai jilbab 3 tahun belakangan ini. Jadi selama 18 tahun sebelum aku pakai jilbab dan sering ke pantai, tapi tetap aku ngak hitam kan.

Iya juga sih… emang dasarnya kamu ngak bisa hitam Ras.

Eh… Ras, Tik, liat dua cowok yang lagi diatas batu itu….

Emang kenapa Bell…?

Ngak… Cuma liat kameranya aja, kameranya bagus sepertinya mereka fotografer deh…

So… ada apa dengan fotografer?

Lho ini gimana sih Tik… maksud aku tu coba kita bawa kamera juga, kan kita bisa foto-foto. Iya kan Ras…

Emh… iya juga sih.

Oooo… gue pikir lho suka ama cowok itu Bell…

Enak aja lho….

Eh… udah jam 4 nih.. kita balik yuk..

Lho… kok buru-buru sih Ras, biasanya kan kamu paling susah diajak pulang kalau sudah main ombak di pantai.

Iya Ras, ntar aja ya… aku masih betah nih…

Bukannya aku ngak mau lama-lama disini, sampai magrib juga aku mau kali, tapi aku harus segera pulang karena ada janji sama mama. Aku mau nemanin mama belanja.

Oh… gitu… ya udah deh. Kita balik sekarang, tapi Ras ntar kalau kepantai lagi jangan lupa ajak kita ya…

Ok… beres bos…!! ntar kalau kesini lagi pasti aku ajak kalian, kan lebih seru kalau ada yang nemanin.

***

Tom.. coba lo liat foto ini… baguskan….

Wow… keren bangat Dit, mana yang lainnya?

Tu di atas meja, lo liat aja sendiri.

Ternyata ngak sia-sia ya, kita panas-panas ke pantai. Tapi hasilnya sangat memuaskan. Liat foto perahu-perahu kecil ini bagus bangat.

Ya iyalah… siapa dulu dong yang ngambil fotonya Adit gitu lo.

Narsis gile lo Dit…

Hai… bro ngapain lo berdua?

Kebetulan lo datang Sat…

Ayo sini, lho lihat neh hasil foto kita berdua… baguskan???

Mana coba gue lihat…

Wow… keren bangat… ini hasil foto kalian kemaren?

Yoi… bro..

Ok.. bangat, mana yang lainnya?

Tuh… lho liat aja sendiri.

Mantap-mantap bro… eh… eh… tunggu, nih foto-foto siapa?

Yang mana?

Ini… 3 cewek yang difoto ini?

Oh… 3 cewek itu, sebenarnya gue sama Adit juga ngak tahu mereka siapa. Kita lihat mereka lagi main ombak di pantai, trus karna iseng si Adit foto mereka. Ternyata hasilnya bagus juga. Gimana menurut lho Sat?

Emang bagus sih… mereka cukup fotogenig. Bagus buat objek foto dan dijadiin salah satu karya untuk pameran.

Gue setuju ama pendapat lho Sat, apalagi cewek yang pakai jilbab, kecantikannya alami bangat, bukan karena kosmetik.

Benar bangat, coba kita kenal mereka ya.. Dit, kan gue bisa minta tolong mereka buat jadi model gue. Kalau cewek yang berjilbab itu jadi model untuk foto gue, gue yakin pasti bisa menang dalam pameran foto kali ini.

Wow… ngarap bangat lho bakal menang, ingat coy…. masih ada saingan berat buat lho…

Saingan berat, siapa maksud lho?

Ya gue sama Satria dong…..

Cie… ile pede bangat lho, kayak lho pernah menang aja. Kalau Satria mah gue yakin bisa menang karena dia selalu punya ide cemerlang dalam memilih objek fotonya.

Oi… Sat, lho kenapa dari tadi diam aja, sakit gigi lho? Dan kenapa lho dari tadi mandangin terus tu foto cewek?

Lho suka ya sama cewek yang berjilbab itu?

Ngaco lho berdua….

Santai bro… kalau lho suka juga ngak apa-apa. Lagian gue ngak pernah lihat lho seperti ini sebelumnya, serius amat ngeliatin foto cewek.

Ngak… gue merasa cewek ini ngak asing buat gue. Wajahnya familiar bangat, tapi siapa gue ngak tahu, yang pasti dia mengingatkan gue pada seseorang.

Seseorang…. siapa?

Sahabat masa kecil gue waktu di Jogja. Sudah 12 tahun gue ngak ketemu dia.

Cukup lama juga….

Kenapa lho ngak coba hubungin dia….

Gue udah coba, setelah balik dari Brunei gue sekeluarga pindah ke Bandung. Saat di Bandung gue berusaha menghubunginya, tapi ngak berhasil.

Lho udah coba lagi cari dia ke Jogja?

Sudah, tapi ternyata mereka sekeluarga sudah pindah.

Mereka pindah kemana?

Gue baru tahu pas gue tamat SMA kalau dia sekeluarga pindah ke Padang.

Lho tahu dari mana mereka pindah ke Padang?

Setamat SMA orang tua gue pindah lagi ke Jakarta, dan di Jakarta gue ketemu salah satu teman gue yang dulu juga tinggal di Jogja. Dia juga kenal sama Putri. Jadi gue tanya sama dia kemana Putri pindah, dia bilang Putri pindah ke Padang.

Berarti di kota ini dong bro…

Iya… tapi sampai sekarang gue belum nemuin dia.

Oh… sekarang gue tahu, alasan lho kenapa milih ngelanjutin kuliah di sini, bukannya di Jakarta dan tinggal bersama orang tua lho adalah untuk nyari teman masa kecil lho itu.

Iya… itu adalah alasan utama gue kuliah disini.

Bokap nyokap lho tahu semua itu?

Iya… dan mereka selalu dukung apapun yang gue lakukan, asalkan kuliah gue ngak terbengkalai.

Gue salut sama Bonyok lho…

gue sama Tomi pasti bantu lho nyari teman masa kecil lho itu.

Thanks.

Ngak usah sungkan bro… kalau lho butuh bantuan kita, tinggal bilang aja. Gue sama Tomi selalu siap buat bantu lho. Ya kan Tom?

Yoi bro…                                ***

Hi… Ras,…

Oh… bagas, hi… apa kabar?

Alhamdulillah baik, kamu gimana?

Like you see, I’m Ok

Oh ya… Ras, minggu ini ada acara ngak?

Emang kenapa Gas?

Gini, kamu pasti udah tahu dong kalau aku suka fotografi.

Iya,… trus..?

Minggu ini kan ada pameran fotografi di Taman Budaya, disana sekalian ada lomba fotografi yang pemenangnya selain berdasarkan penilaian juri juga ada juara favorite berdasarkan penilaian pengunjung. Jadi aku kan ikut lomba itu dan aku harap kamu bisa datang untuk support aku biar bisa menang. Sekalian aku mau minta tolong agar kamu bisa ajak teman-teman yang lain seperti Tika dan Bella.

Oh… gitu….

Iya Ras, gimana, kamu bisa kan Ras? Please…

Kalau aku sih emang ngak ada acara minggu ini, tapi ngak tau deh Tika sama Bella.

Kalau gitu kamu mau datang kan Ras?

insyaAllah kalau ngak ada halangannya aku usahain datang deh….

thanks ya Ras…

Iya, sama-sama nanti aku ajak Tika sama Bella juga.

Ok, semoga mereka bisa. Ya udah kalau gitu aku jalan dulu ya Ras…

Bye…

Bye…

***

Hi,…. Bell, Tik…

Hari minggu ini ada acara ngak?

Emang kenapa Ras?

Gini, tadi aku ketemu Bagas, trus dia minta tolong aku untuk ajak kalian ke pameran dan lomba fotografi minggu ini di Taman Budaya.

Ceritanya dia ngundang kita gitu Ras?

Yap, dia ngundang kita untuk datang lihat hasil fotonya sekalian ngasih dukungan.

Oooh……

Gimana bisa ngak?

Kalau aku sih ngak masalah, tapi ngak tau deh Bella?

Lo gimana Bell, bisa ikut kan?

It Ok, no problem.

Baguslah kalau gitu, kita pergi bareng aja ya….

Kita mau pergi jam berapa Ras?

Agak siang aja ya, kira-kira jam satu. Lagian pamerannya kan sampe malam.

Ok deh…..

***

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: